Nabi Muhammad Menganjurkan Umatnya untuk Dzikir Bersama

Umat masih ada yang mempermasalahkan dan saling menyalahkan terkait bid’ah tidaknya ibadah-ibadah tahlil, qunut atau yasinan.

StatusPagi.com – Perdebatan dan perbedaan pandangan tentang boleh tidaknya melakukan tahlil atau yasinan mulai berkurang. Tetapi sebagian lainnya masih ada umat yang saling menyalahkan terkait ibadah tahlil tersebut dianggap sebagai bid’ah.

tahlil

Tahlilan yang dalam pelaksanaannya adalah melafazkan bacaan dzikir dan berdoa untuk jenazah yang meninggal oleh sebagian umat Islam dianggap sebagai bid’ah dholalah karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabatnya. Tahlilan sendiri dianggap sebagai warisan dari kebiasaan ibadat umat Hindu yang dimodifikasi.

Bid’ah sendiri menurut Iman Syafi’i adalah ibadah yang ditegakkan atau dilaksanakan yang menyelisihi Al Quran dan Al Hadits atau ijma ulama. Inilah bid’ah yang sesat. Sementara ibadah yang dilaksanakan tanpa menyelisihi ketiga hukum tersebut maka digolongkan sebagai perkara baru yang tercela.

Dalam kitab  ‘Jamiul Ulum wal Hikam’, Imam Ibu Rojab berkata bahwa bid’ah adalah apa saja yang dibuat atau dijalankan tanpa landasan syariat. Tetapi jika memiliki landasan hukum dalam syariat, secara tinjauan bahasa termasuk dalam bid’ah tetapi bukan bid’ah secara syariat.

Tahlil atau tahlilan adalah lafaz dzikir Laa ilaha illallah. Kata tahlil ini sendiri telah ada sejak di masa Rasulullah.

Dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: “Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar maruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).

Nabi Muhammad juga menganjurkan untuk ber-dzikir bersama-sama atau berjamaah seperti termuat dalam hadits berikut:

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliallahu ‘anhu, Mu’awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: “Kenapa kalian duduk di sini?”. Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami”. Nabi bertanya kemudian: “Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?”. Jawab mereka: “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini”. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat”. (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasa’iy).

Dari hadits diatas, dzikir secara bersama tidak hanya diperbolehkan oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi juga dibanggakan oleh Allah SWT seperti kabar yang di sampaikan oleh malaikat Jibril.

Keutamaan dzikir berjamaah juga pernah disabdakan oleh Rasulullah sebagaimana hadits  riwayat Muslim berikut :

Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada disisiNya“. (Hadits riwayat Muslim).[via Merdeka]


Kategori : Hikmah diterbitkan Minggu, 2 Agustus, 2015 oleh Siti Sofiati